20 May 2008

Wakil Rakyat

Ketika kami mengulangi permintaan
mereka hanya memandang dari dalam
sedang kami mengeja-eja harapan dan menghafalnya

Seperti orang lain mereka juga mewarnakan kehidupan
menyusun payah dan meletakkan sengsara di dinding
memelihara kebencian sering bersahabat ketika malang

Wakil rakyat tempat kami mengadu nasib dan meminta
suara kami menyeberangkan mereka ke benua jangka
membina rumah

Malangnya kepada kami segala sengsara
segala sengketa dicanai dipersembah api membara
kami dipimpin dan hidup membaca huruf-huruf dusta

Tiada atau ada dua kata yang menyatu pertanyaan
siapakah yang memimpin dan dipimpin
siapakah yang memilih dan dipilih

Siapakah yang bernama wakil
siapakah yang bernama rakyat
siapakah yang tak henti-henti berharap

saat ini, lakaran perdebatan dan peperangan saraf
khianat fitnah atau tak ada taat setia
rebah pekerti musnah hati budi dan hilang timbang rasa

Saat ini, mereka kembali mencari diri
mencari kehilangan yang mereka lupakan
mengembalikan akar menegakkan pohon impian

Kota Kinabalu,
10 Julai 1998.

Kemerdekaan

Tak aku tahu apa erti kemerdekaan saat ini
walaupun kami bebas memilih diri
destini dan pintu rumah kami

Tak aku tahu apa lagi makna kemerdekaan ini
berkata-kata harus berbatas
bukan membangunkan harmoni

Akhirnya kami musykil
kami curiga dan bingung
berada di manakah kami di bumi merdeka ini?

Ada yang terpaksa menyata pendirian
saat tergumam oleh muslihat
tanpa rela hati dan ikhlas jelas

Semua orang harus berpendirian
untuk mengekalkan perpaduan
untuk membelai utuh peribadi

Di sisi kuasa
atau fobia kebangkitan manusia
mulia, berani mendirikan masjid kebenaran

Alangkah angkuhnya
berada di hadapan barisan
kanan kiri ada banjingan mengasak kebatilan

Dan membunuh kebenaran
meruntuhkan keadilan
di manakah kami di bumi yang merdeka ini?

Yang saling dihidang rungsing
yang saling didodoi dusta
yang saling diberi mimpi

Mari, ambil nafsu kebenaran ini
semaikan di dadamu
peliharalah menyuburkan pohon adil

Belajarlah menjadi kami
yang saling memberi biarpun kau terima
bermakna bukan dari kami

Turunlah ke bawah
dan dongakkan kepalamu
siapakah yang paling tunduk antara kita?

Kota Kinabalu.
17 September 1998.

Memahami Kudrat

membentangkan pekikan ombak di rahang ranjang
pembaringan menembusi dinding-dinding malam
dan siang
sepi hidup dan bersenyawa
dalam kandang pandang purba
melukiskan kasih tanpa batas mencitra pasrah
berserah pada bungkam tafakur menyelami hikmah lara

saudara kami yang tak pernah selesai
mengucapkan darud iaitu salam dan salawat
membangunkan harapan dan lafaz doanya
yang tak pernah lewat
mengatur waktu yang semakin mengecil
memaut diri

dan tanpa berbeza datang siang atau hening malam
pada kamardiri merasai gigitan tabah dan sepi
citra cabar yang tak menyatakan akhir
bagai serpih soalan-soalan biasa yang kau ukir
pada pertemuan makna hayat di bibir fikir

saudara kami yang tak mungkin
pernah menjahit kecewanya
ampun ditadah dipinta merasai nikmat wangi cahaya
penghayatan corak warna dan menggambarkan tenang
pada wajah dan iramakalbu yang bersatu


Kota Kinabalu,
19 September 1998.

Kematian yang Semakin Hampir

ketika jatuh
bukanlah kematian yang hampir
kau matikan kekuatan peribadi
saling bicara begini:
berikan aku nyawa yang lain
kerana kematian kejatuhanku,
fikirmu

ketika pulang
ke rumah fikir
kau fakirkan fikiran agung:
aku peribadi yang duka
luka seluruh jiwa
berikan aku darah yang lain
kerana darahku tak lagi merah,
fikirmu

ketika sunyi
bisikan tak lagi didengarkan
kau tulikan telinga:
aku si bisu yang berkata dusta
bahasa isyarat tak lagi
bermakna sama
berikan aku sajak-sajak santai
menyatakan kebisuanku pada pantai,
fikirmu

ketika tak mengerti
fikirmu berarak di padang
reformasi kerajaan diri
demontrasi ini memberi
sebuah kematian yang hampir
pada fikirmu
yang fakir!


Kota Kinabalu,
7 Disember 1998.

Tin Kosong Sebuah Lagu

kami sudah diajar oleh kebiasaan
kami sudah dibiasakan oleh kebudayaan
kami sudah dibudayakan oleh kedewasaan
kami sudah lali oleh kelalaian
kami sudah tak peduli
apa apa akan jadi

ting tong tin kosong
ting tong tin kosong
lagu kamu nyanyikan waktu hujan tak datang
lagu lama kamu gembirakan waktu akan
datang harapan-harapan
lagu lama kamu dendangkan ketika nak
datang tumpuan kebijaksanaan

apa-apa akan jadi selepas ini
kami juga mahu bernyayi seperti kamu
tapi kami tidak akan berjanji
sesiapa akan gembira dengan nyanyian ini
sesiapa akan kaya dengan nyanyian ini
sesiapa akan menderita dengan nyanyian ini
kami akan menafikan
kata-kata bohong para pembohong
kata-kata manis para pengemis
kata-kata murni para pencuri

ting tong tin kosong
ting tong tin kosong
lagu kamu nyanyikan waktu hujan tak datang
lagu lama kamu gembirakan waktu akan
datang harapan-harapan
lagu lama kamu dendangkan ketika nak
datang tumpuan kebijaksanaan

kami anak-anak kemerdekaan yang harus merdeka
ini tempat tumpah darah kami
jangan serahkan tin-tin kosong
di hadapan kemerdekaan ini
jangan gendangkan kosong tin-tin
di tengah-tengah bebas kemerdekaan kami

ting tong tin kosong
ting tong tin kosong
lagu kamu nyanyikan waktu hujan tak datang
lagu lama kamu gembirakan waktu akan
datang harapan-harapan
lagu lama kamu dendangkan ketika nak
datang tumpuan kebijaksanaan

kami akan memilih kebenaran
kami akan memilih keperluan
kami akan memilih kepunyaan
kami akan memilih keadilan
kami akan memilih kesempurnaan
kami akan memilih keunggulan
kami akan memilih kemerdekaan

jangan paksa kami mendengar ting tong
lagu-lagu kosong tin kosong
sekarang…!

Kota Kinabalu,
1998.

Memahami Pertanyaan

Masihkah kau digalaui pertanyaan
yang mewarnai naluri menjelitakan wajah persahabatan?
memiliki misterinya sambil menanti penjelasan
yang diintai-intai di balik kamar, menyebati riuh bosan
memburu biru makna di perdu malam
mengungkap percik sinar yang tersirna
asyik menakluk hayat kebenaran,

kau tunas hijau menyelinapi senyap jendela
membuka pandang ke saujana padang gelisah
menyangkutkan pertanyaan demi pertanyaan
dalam kiasnya berbahasa rahsia
kelak merungkai pedih luka dulu
dibisikkan gema canang gulana panjang
dicitrakan saban senja menjengah,

yang pulang mentafsir tanya
berulang dan mengulangi kata
berhayat di dalam sukma menafasi
meriwayatkan rahsia memakna sentuhan naluri
memesrai gerbang akrab yang sentiasa sasa.


IPS, Kota Kinabalu.
30 Mac 1999.

Tekad di Mata Pisau

Apakah demi luka
membuak darah membara
tatkala kau bawa
sedekad tekad di mata pisau
rindumu

Makin kuasah mataku
di atas pengasah pengalaman ini
mempelajari iramanya
memberi keras kepada ketajaman
memberi tajam kepada kekerasan

Menusuk di jantung akal
mengasuh mata pisau kalbuku
menikam mata kalbumu
yang datang
dalam kelabu

Sambil dibuai kenangan masa lalu.


IPS, Kota Kinabalu,
2 Jun 1999.

Sebuah Jatidiri yang Pergi

-semoga roh allahyarham Haji Harun Haji Salleh
dicucuri rahmat bersama para solihin dan syuhada


(dan kita tidak perlu menjawab jika ada bertanya
siapakah si kerdil di sisi Maha Perkasa?)

demikianlah kunjungan yang sementara
kembara di bumi Tuhan
dianugerakan-Nya seberkas akal -
dengan cekal dan tawakal
membangun umat mensejahterakan kalimat
meski sesekali berjarak
tapi Dia amat dekat

kita hanya menyimpan haru
untuk bapa yang tak sempat dihulur ria
dalam sengsaranya
kita angkat bakat sastera dan bahasanya
memperkasa sahsiah agama dan bangsa
kita diasuh menyemarak minda oleh tintanya
sungguh utuh dan kental
juang dan jatidiri bapa
yang tak pernah betah melangkah
tak pernah mengira jarak jejak
memburu kemanusiaan berpuncak kebenaran

meski tak perkasa di hadapan Yang Maha Perkasa
kau perkasa di antara anak-anakmu
kau perkasa di dalam lingkaran pengorbananmu
kau perkasa di serata ceruk mengalirkan dakwat
seperti gelora laut
kami di pantai menikmati deru fikir yang kau ukir
di antara pantai-pantai yang dibentuk alur pengalaman

bapa tak datang antara kami
ketika mendalami kalbu fikirmu
bicara galak memberi hujah di pentas
beradu pada sayembara demi sayembara
kemenangan untuk zaman lampau
itulah lampu anak bangsa
bapa hilang antara kami
waima nama dan karya berhimpun di persada bangsa
bapa pergi menjana janji mimpi-mimpi syurga
doa anak-anak dan sahabat
memartabat rumahmu yang baru di sisi Maha Pengasih

al-Fatihah …


Kota Kinabalu,
23-24 Julai 1999.

Rampas

tak lain hanya dukacita tatkala pintu rumah kami disita
kalian masuk tanpa salam
datang mengepung halus menerjah mimpi-mimpi kami

siapakah pemula membiasakan keadaan
mendustai mangsa?
Bertandanglah perampas itu dari seberang
berbasa basi, menikam para hulubalang negeri
menjual janji dan bernyanyi
hingga tak ada kata lagi bicara kami
habis dibawa lari

penggempur melumpuhkan lawan bagai monyet-monyet
bergayutan di pepohonan adalah perampas yang waras
bijaksana menyuntik kedegilan, patuh,
kami mengenal hampa
luka lara yang tak mungkin dibicara
kalian rampas kepunyaan dan kebenaran
kalian rampas emas kepercayaan
menuang wang di setiap pintu rumah
menjadikan kami boneka bermain mimpi
di hujung telunjuk, mudah aja angguk jujur
memenangi ketika kami mudah jatuh menggelepur

rampaslah kepunyaan kami, bunga-bunga yang belum gugur
atau yang telah gugur, kau rampas apa jua
projek berjuta, bukit bukau kau rampas
lembah purba kau rampas, laut selut kau rampas
hati kami, kekasih kami, jiwa kami kau rampas!

ketika kembali kau tinggalkan hampanya
ketika kembali kau pulangkan hanya mimpi-mimpinya
ketika kembali kau tak peduli
merampas impian kami
yang bertunas emas.


Kota Kinabalu,
1999.

Meski Bukan

Meski bukan kehilangan tapi itulah kehilangan
yang sepi akrab yang mendekat kian menjauh
dalam rumah piluku kausingkir mimpi-mimpi
mengusir rasa menjadikan malam tak mungkin
malam dan siang tak mungkin siang

Meski bukan ketiadaan tapi itulah ketiadaan
yang sunyi kubicara lagi tentang lara lama
yang kukunci di kamar berakar kesedihan
memenjara wajah menghukum diamku
kau beri kepada lukaku

Meski bukan malang tapi itulah malang
yang pulang ke sisi
menjelmakan perkasa seperkasanya
lebih berani menjadi diri sendiri
menghadapi cabaran mendepani dugaan

di sisi meski kau, kau panorama ilhamku
meski bukan kehilangan yang hilang
meski bukan ketiadaan yang tiada
meski bukan malang yang malang
kau di sisi mengunjungi taman-taman


IPS, Kota Kinabalu,
1999.